info@unp.ac.id
Pesisir Selatan Aula Pertemuan Pandan View Mandeh Resort, Kabupaten Pesisir Selatan, dipenuhi para pemangku kepentingan pendidikan dari dua penjuru Sumatera Barat pada Sabtu, (23/5). Direktorat Kerjasama, Reputasi & Internasionalisasi Universitas Negeri Padang (UNP) sukses menggelar Employer Meeting Program EQUITY Times Higher Education (THE) Impact Ranking untuk yang ketiga dalam tahun ini setelah dua program sebelumnya dipercayakan kepada Fakultas Pariwisata & Perhotelan (FPP) dan Fakultas Bahasa & Seni (FBS). Kali ini, mitra yang digandeng adalah SMA dan SMK yang berada di bawah Cabang Dinas Wilayah VII Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat.
Program EQUITY akronim dari Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition merupakan inisiatif Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program ini dirancang khusus untuk memfasilitasi 23 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) dalam menyusun dan melaksanakan program pengembangan menuju World Class University (WCU). Pendanaannya bersumber dari Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) yang dikelola LPDP, berpijak pada amanat Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2021 tentang Dana Abadi di Bidang Pendidikan. Sebagai tolok ukur, program ini merujuk pada dua lembaga pemeringkat bergengsi dunia: Quacquarelli Symonds World University Ranking (QS WUR) dan Times Higher Education (THE).
Kepala Subdirektorat Kerjasama, Dodi Martananda, M.Pd, menjelaskan bahwa forum ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, memperkuat kemitraan dengan instansi pemerintah dan dunia usaha dan industri (DUDI). Kedua, menyampaikan informasi mengenai kompetensi lulusan UNP sesuai kebutuhan pasar kerja. Ketiga, menjaring masukan dari mitra khususnya lembaga pendidikan di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Padang guna menyempurnakan kerja sama yang telah berjalan.
Dalam sambutannya, Direktur Direktorat Kerjasama, Riset, dan Internasionalisasi UNP, Prof. Rusnardi Rahmat Putra, MT., Ph.D. Eng, menegaskan bahwa kehadiran UNP di panggung pemeringkatan universitas dunia adalah pencapaian kolektif. Dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, hanya 26 kampus yang berhasil menembus daftar tersebut dan UNP adalah salah satunya.
Ini bukanlah suatu capaian yang mudah. Ini merupakan buah dari kerja sama UNP dan para stakeholder yang selama ini menggunakan alumni kami. Ungkap Prof. Rusnardi.
Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Hubungan Internasional, Dr. Rer.nat Deski Beri, M.Si. Dalam pidatonya, ia menyoroti ironi yang kerap luput dari perhatian: meski UNP kini diperhitungkan di kancah global, 19 persen pengangguran di Sumatera Barat justru terkonsentrasi di Kota Padang. Ketimpangan antara jumlah penduduk dan lapangan kerja yang tersedia mendorong UNP untuk meluaskan orientasinya ke pasar internasional.
Tahun ini kami akan mengelola pelatihan bagi 500 calon pekerja migran dan memprioritaskan alumni UNP. Kami juga akan mengirimkan 200 pekerja migran secara berkelanjutan ke Jepang bukan sebagai buruh kasar, melainkan sebagai tenaga ahli: engineer, staf hotel, tenaga keperawatan, dan profesional di pusat-pusat perawatan. Ujar Doktor lulusan Jerman ini.
Rencana tersebut bukan sekadar wacana. UNP telah menandatangani MoU dengan mitra di Jepang dan menjalin komunikasi aktif dengan negara-negara industri di Asia, termasuk Taiwan dan Tiongkok, dengan dukungan BP3MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia). Program pelatihan 500 calon pekerja migran ditargetkan bergulir tahun ini, dengan prioritas kepada alumni UNP.
Agenda forum tak berhenti pada urusan pemeringkatan dan penempatan kerja. Migrant Center UNP, bekerja sama dengan BP3MI, hadir dengan misi pencegahan. Narasumber dari BP3MI Sumatera Barat, Dewi B. Awaliyah, S.I.Kom seorang Pengantar Kerja Ahli Muda memaparkan peluang kerja di luar negeri sekaligus jalur resmi yang wajib ditempuh siswa lulusan SMA/SMK. Pembekalan ini penting, mengingat ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) masih mengintai para pencari kerja muda yang minim informasi tentang prosedur migrasi yang sah.
Isu lain yang tak kalah mendesak diangkat oleh Ermiati, SH, Ketua Harian P2TP2A Kota Padang. Ia membawakan materi soal batas antara candaan dan perundungan dalam pergaulan siswa SMA/SMK sebuah persoalan psikososial yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental generasi muda yang kelak akan menjadi tulang punggung angkatan kerja produktif.
Melengkapi forum, Ir. Dwi Sudarno Putra, MT., Ph.D., Kepala Subdirektorat Reputasi UNP, menjelaskan strategi optimalisasi partisipasi dan respons pengguna lulusan dalam Employer Reputation Survey instrumen yang secara langsung memengaruhi posisi UNP dalam pemeringkatan QS WUR dan THE.
Perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Kabid SMK Cabang Dinas Wilayah VII, Nasril, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas pilihan Pesisir Selatan sebagai tuan rumah. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menghidupkan semangat kemajuan pendidikan, tetapi turut mendorong geliat pariwisata kabupaten setempat.
Di balik keindahan Teluk Mandeh yang memukau, forum ini menorehkan pesan yang lebih dalam: sebuah kampus negeri di ujung barat Sumatera tengah membangun jembatan antara ambisi global dan kebutuhan lokal antara reputasi internasional dan nasib nyata para lulusannya. (ab/KKPS)
#UNP #BeritaUNP #EQUITY #WorldClassUniversity #QSRanking #THERanking #BP3MI #PesisirSelatan #SumateraBarat #Kemendiktisaintek #SDG




